Berita Populer

Ali Wardana Panggabean

Selamat Datang di Negeri Berbilang Kaum

Kamis, 27 Februari 2014

Front Pembela Honorer Indonesia (FPHI) minta pemerintah segera selesaikan Honorer K1 , K2 dan Non Katagori

TEMAN TEMAN HONORER INDONESIA SEPERJUANGAN !
PERJUANGAN KITA BELUM BERAKHIR
MARI KITA BERSATU BERJUANG BERSAMA
SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN
SAMPAI SEMUA HONORER INDONESIA BAIK NON K, K2 DAN K1 DIANGKAT MENJADI PNS
DEMO NASIONAL HONORER KEMARIN MEMBUKTIKAN BAHWA HONORER INDONESIA BISA BERSATU MENGGETARKAN IBUKOTA NEGARA
DEMO NASIONAL HONORER KEMARIN MEMBUKTIKAN BAHWA HONORER INDONESIA MASIH ADA DINEGERI INI
HONORER INDONESIA BERSATU BERJUANG BERSAMA

JAKARTA -- Sepuluh tenaga honorer K2 diminta mewakili untuk menemui Menpan-RB Azwar Abubakar Seskab Dipo Alam dan sejumlah jajaran Kementerian Sekretariat Negara di kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu, (26/2).

Dalam pertemuan tersebut, perwakilan memberikan tuntutan para pengunjukrasa agar menjadi fokus dan perhatian pemerintah pusat.

"Tuntutannya tadi, kami minta pemerintah segera selesaikan K1 dan K2. Harus tahun 2014 ini," ujar Ketua Front Pembela Honorer Indonesia (FPHI) Muklis Setiabudi di Jakarta Pusat, Rabu, (26/2).

Tuntutan kedua, kata dia, pemerintah diminta membuat nonkategori dan sebuah regulasi baru, agar database honorer didata kembali. Selain itu, honorer, lanjutnya, menolak CPNS umum.

"Kami juga minta pemalsuan dokumen dari tenaga honorer harus ditindas. Tadi Pak Dipo Alam sudah minta datanya. Kami bilang masih diinvetarisir. Nanti kita laporkan semuanya," ungkap Muklis

Muklis menyatakan dalam kesempatan itu, ia dan rekan-rekannya juga menyampaikan pada Menpan-RB bahwa apabila pemerintah tidak dapat memfasilitasi hal tersebut, sebaiknya Menteri Azwar mundur dari jabatannya.

"Menpan dan Seskab sudah baca sendiri kami juga tulis meminta Menpan turun dari jabatannya," sambung Muklis.

Menurut Muklis dari pertemuan itu terdapat tiga kesimpulan. Menpan, kata dia, menyatakan tidak ingin bicara tenaga honorer K1 dulu saat ini. Difokuskan pada honorer K2.

Untuk mencari solusi K2, kata dia, Menpan akan memanggil gubernur, walikota, dan bupati seluruh Indonesia untuk membahasnya. Dalam hal ini, Menpan menjanjikan ada peluang afirmasi, khusus yang honorer usia kritis.

"Besok akan dipanggil semua kepala daerah, Menpan mengaku itu niat baiknya. Kita tunggu saja. Kata Menpan, hasil rapat besok semoga ada solusinya. Ada peluang affirmatif, tapi beliau mengaku enggak janji," kata Muklis.

Berikutnya, kata Muklis, pemerintah menjanjikan jika ada honorer K2 yang tidak lulus akan dimasukkan dulu sebagai pegawai kontrak (PPK). Itu kata dia, khusus untuk honorer.

"Kami minta kalau yang sudah di PPK tidak perlu tes lagi CPNS, bisa langsung nanti. Tes cukup di PPK. Itu usul kami, tapi Pak Menteri belum menjawabnya. Belum ada solusinya. Kalau di PPK, ada kuotanya, tapi menteri tidak ingin berjanji. Yang pasti tidak langsug PNS, tapi PPK dulu,"

Terakhir, kata dia, dari pertemuan itu dipersilakan agar honorer yang merasa masih bermasalah dengan administrasinya agar mengadu pada Deputi SDM di Kemenpan-RB. Termasuk jika ada yang ingin mengadukan pemalsuan dokumen maupun oknum yang melakukan itu.

"Jadi besok berharap saja semua kepala daerah datang, jadi mereka bisa memperjuangkan nasib honorer di daerahnya," kata Muklis. (flo/jpnn)

Korupsi Mikro

Apakah korupsi yang dilakukan pejabat pejabat kita 100% karena kesalahan mereka (koruptor. Red) ??? Kalau aku pikir dan mengamati realita lingkungan sosial di masyarakat, sebenarnya mereka tidak benar-benar bisa disalahkan!!

Kalau anda mau jujur melihat lingkungan sekitar anda, akan sangat banyak ditemui benih-benih korupsi yang sangat menjamur di masyarakat dan sebenarnya masyarakat juga banyak yang “mendukung” korupsi tetap subur.

Politik uang masih begitu kuat berakar di masyarakat, bukan hanya pada Pilpres saja, tapi juga Pileg, Pilgub, Pilbup bahkan pemilihan camat pun Politik Uang masih menjadi budaya yang hakikatnya sebuah benih Korupsi tingkat mikro.

Masyarakat sering bersuara keras mengecam pelaku pejabat yang korup dengan kata kata kasar, cemooh, hujatan dll tapi entah masyarakat sendiri secara sadar atau tidak telah melakukan budaya korupsi yang sangat lekat, dengan diberi uang beberapa puluh atau ratus ribu sebagai imbalan, untuk mencoblos calon tertentu masih sangat terlihat jelas dimasyarakat dan bahkan telah menjadi rahasia umum.

Bahkan polisi sering dihujat habis habisan oleh kalangan aktivis dan masyarakat jika salah satu jendralnya memiliki rekening ‘gendut’, namun masyarakat sendiri yang selalu ‘mendukung’ polisi untuk tetap melakukan korupsi misalkan saat operasi lalu lintas dan ada pengendara yang ditilang karena tidak membawa SIM, biasanya pengendara yang kena tilang akan memilih memberi “uang damai” dari pada diurus kepengadilan, dengan alasan menghindari proses yang ribet dipengadilan, toh “Uang Damai” yang diberikan kepolisi belum tentu dimasukkan kedalam kas Negara karena tidak ada catatannya dan sangat mungkin mengalir ke kantong pribadi polisi.

Tak hanya dikalangan masyarakat, golongan pelajar pun banyak yang melakukan praktik “pendidikan korupsi” di Sekolah atau kampus, dengan tujuan agar mendapat nilai bagus, masih ada saja siswa sekolah ataupun mahasiswa perguruan tinggi yang melakukan praktik MENCONTEK.

Jangan sepelekan hal-hal kecil semacam itu yang hakikatnya adalah benih-benih korupsi. Mungkin masyarakat atau pengendara yang melakukan “korupsi mikro” itu berdalih, jumlah uang Suap mereka tak seberapa dan tak merugikan Negara, ya…karena mereka tak punya Kekuasaan, coba kalau mereka diberi kekuasaan mungkin lain lagi ceritanya, yang kecil aja mau, apa lagi dikasih yang besar :P… suatu hal Besar pasti diawali dengan hal kecil. belum lagi dengan murid sekolah dan mahasiswa yang sejak dini telah melakukan praktik “korupsi mikro”, padahal mereka yang akan memimpin negeri ini dan menempati posisi pemimpin. Dan pada dasarnya Filosofi “korupsi mikro” ini sama dengan korupsi kerah putih yaitu menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan.

Kita tak perlu berambisi jadi ketua KPK atau Jendral Polisi untuk memberantas korupsi xD berantaslah korupsi dari diri sendiri, keluarga, teman, lingkungan. Jika lingkungan dan masyarakat telah bersih dari korupsi, maka pemerintahan pun akan bersih dari korupsi, sejatinya kan pejabat pemerintah juga berasal dari masyarakat (sumber air yang bersih akan menghasilkan air yang bersih pula).

Bagaimanapun jika masyarakat tetap bersikap ikut menyuburkan dan memelihara budaya korupsi, jangan pernah salahkan 100% tindakan korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat Negara karena sejatinya pejabat juga dilahirkan dari masyarakat dan koruptor tak akan pernah bisa hidup di habitat yang bersih dari korupsi.

[isi ini jangan di Generalisasi, walau bagaimanapun masih ada (entah banyak atau sedikit) masyarakat, polisi, pengendara motor, siswa sekolah dan mahasiswa yang punya sifat jujur]
https://www.facebook.com/caleg.depok

Rabu, 11 Juli 2012

PENGEMBANGAN KAMPUNG SIAGA BENCANA (KSB) MEMBENTUK MASYARAKAT (COMMUNITY) YANG BERKEMAMPUAN




Bencana dapat terjadi di mana-mana dan kapan saja serta selalu berdampak terhadap kerusakan fisik berupa fasilitas umum dan fasilitas sosial, baik berskala kecil/ringan maupun berskala besar/berat dan bahkan menimbulkan korban jiwa (meninggal dunia). Sementara upaya-upaya penanggulangan bencana selama ini hanya ada apabila terjadi bencana melalui upaya pemerintah pusat/daerah yang bekerjasama dengan lembaga/organisasi sosial dan masyarakat.
Indonesia adalah Negara beribu pulau diapit oleh samudera besar dan berdiri di atas patahan lempengan tanah dunia serta banyaknya gunung berapi yang dapat memicu timbulnya bencana lain, seperti gempa bumi, banjir lahar, tanah longsor dan tsunami. Kondisi geografi ini didukung oleh pertumbuhan penduduk Indonesia yang telah mencapai tidak kurang dari 250 juta jiwa yang tersebar di kota-kota besar, desa dan pulau-pulau. Kondisi faktual geografi dan demografi tersebut memberikan keharusan upaya penanggulangan bencana secara menyeluruh, terencana dan berbasis masyarakat sehingga upaya-upaya dimaksud dapat berjalan tepat guna, berdaya guna dan berhasil guna.
Penanggulangan bencana dilakukan sebelum terjadi bencana, saat bencana dan pasca bencana. Upaya pertama yang paling tepat adalah dilakukan oleh masyarakat sendiri. Hal ini karena orang yang pertama-tama mengalami dan merasakan dampak bencana adalah masyarakat itu sendiri baik sebelum, saat maupun pasca bencana. Karena itu peran aktif masyarakat dalam penanggulangan bencana perlu ditumbuhkan dan menjadi keharusan melalui kesiapsiagaan masyarakat. Dengan cara demikian akan menekan resiko bencana yang mungkin akan terjadi.
Kampung Siaga Bencana (KSB) adalah suatu wilayah komunitas yang disiapkan untuk mengelola seluruh aspek dan proses penanggulangan bencana berbasis komunitas (masyarakat) yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pengendalian, agar masyarakat memiliki kemampuan melakukan berbagai hal yang berkaitan dengan pengurangan ancaman, risiko dan dampak bencana secara mandiri pada skala terbatas, terutama saat pertama kali terjadi bencana. KSB dibuat untuk dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana melalui peran serta aktif masyarakat.
Berdasarkan pemahaman tersebut, kegiatan Pengembangan KSB menjadi sangat penting dan pula menjadi bagian tidak terpisahkan dari kebijakan umum penanggulangan bencana secara nasional dalam upaya meningkatkan kualitas dan status KSB yang semula KSB Tumbuh menjadi KSB Berkembang. KSB sebagai salah satu program unggulan dalam mengemban tugas penananggulangan bencana bidang bantuan sosial berbasis masyarakat. KSB juga sebagai program pemberdayaan masyarakat di seluruh Indonesia. Melalui KSB dapat terkondisikan masyarakat yang berdaya dan lebih siap berpartisipasi dalam pembangunan.
Kegiatan pengembangan KSB ini bertujuan: 1) meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat dalam menanggulangi bencana, 2) terlatihnya masyarakat (tenaga-tenaga lokal) yang memiliki kemampuan dan kompetensi dalam mengenal dan menanggulangi bencana, 3) masyarakat mampu membuat organisasi penanggulangan bencana dan tugas-tugasnya yang disesuaikan dengan ketersediaan sumberdaya yang dimiliki. Adapun sasarannya adalah masyarakat umum yang berada di sekitar wilayah kegiatan KSB,
Mengingat pentingnya membentuk masyarakat (community) yang berketahanan dan berkemampuan dalam penanganan dan penanggulangan bencana, diharapkan kepada Pemerintah Kota melalui Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Sibolga untuk melaksanakan kegiatan Pengembangan KSB sehingga masyarakat memiliki kemampuan membuat peta rawan bencana, mendirikan posko bencana, membuat sistem peringatan dini berbasis lokal, membuat jaringan informasi lokal, mampu menyediakan peralatan bencana secara sederhana, memberikan pertolongan bersama, mampu melakukan evakuasi dini dan mampu membuat lumbung bencana desa.
Oleh; Ali Wardana Panggabean (Ketua Karang Taruna Kecamatan Sibolga Selatan)







BIO DATA

Nama   : Ali Wardana Panggabean
TTL     : Sibolga, 26 Juli 1975
Alamat : Jl. Sisingamangaraja No. 342 Sibolga Kel. Aek Habil Kec. Sibolga Selatan 22533
Jabatan: Ketua Karang Taruna Kecamatan Sibolga Selatan
              Kepala Markas Kota Palang Merah Indonesia Sibolga
              Staf pada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Sibolga
Email   : aishwaryahnabilaalmay@yahoo.co.id,
              aliwardanapanggabean.awp@gmail.com
              www.tapipasikotasibolga.blogspot.com
HP       : 082366012115

Selasa, 29 Desember 2009

pelatihan SAR dan Kepemimpinan



RELAWAN PMI CABANG SIBOLGA ADAKAN KEGIATAN PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA, SAR DAN KEPEMIMPINAN

Peningkatan kemampuan relawan perlu ditingkatkan, mengatisipasi hal ini PMI Cabang Sibolga mengadakan pelatihan Pertolongan Pertama dan pelatihan SAR dan Kepemimpinan yang diikuti oleh 30 Relawan dari PMI Cabang Sibolga dan Anggota Gempar Sibolga. Pelatihan pertolongan pertama berlangsung dari tanggal 15 s/d 18 Desember 2009 bertempat di RSU. FL. Tobing Sibolga. Pelatihan yang kedua berlangsung dari Tanggal 25 s/d 27 Desember 2009 dan berlokasi di Pantai Indah Kalangan. Pelatihana ini merupakan hasil kerjasama antara PMI Cabang Sibolga dengan RSU FL.Tobing Sibolga dan GEMPAR Sibolga – Tapteng. Instruktur yang melatih terdiri dari dr. Yasin Wangi yang juga merupakan Kepala IGD RSU.FL.Tobing, kemudian Dr.Aswandi Hutabarat dan Mustaman Siregar, sedangkan untuk pelatihan SAR dan Kepemimpinan dilatih Oleh Instruktur SAR dari Medan dan juga Sibolga.Menurut Sekretaris PMI Cabang Sibolga DRS.Charli Sinambela pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan relawan PMI Sibolga dalam hal tanggap terhadap keadaan sekitar.

Sibolga, 26 Desember 2009

ali wardana panggabean
Kedepan diharapkan peran serta pihak – pihak terkait dapat lebih ditingkatkan sehingga anggapan masyarakat selama ini bahwa kegiatan PMI itu hanya mengurusi masalah donor darah dapat diluruskan karena PMI itu memiliki bidang kerja yang sangat luas bukan hanya masalah donor darah tapi PMI juga dapat terlibat langsung dalam hal penanggulangan bencana, pembentukan Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah juga sosialisasi tentang peningkatan kesehatan masyarakat.


Jumat, 06 November 2009

do you know?

Einstein mengatakan bahwa: “Ada dua cara menjalani hidup, yaitu menjalaninya dengan keajaiban-keajaiban atau menjalaninya dengan biasa-biasa saja“.

Sekarang ini banyak selogan yang dikeluarkan oleh banyak orang yang topiknya seolah membius kita: “Stop Dreaming Start Action“. Saya mengatakan bahwa slogan itu sepenuhnya tidak benar.

Mengapa? Coba kita bayangkan, segala sesuatu yang Anda jalani saat ini adalah tidak lepas dari ‘dream’ atau mimpi Anda entah beberapa tahun yang lalu kan?

Sejarah pesawat terbang yang menjadi angkutan favorit saat ini berawal dari sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Thomas Alfa Edison juga menemukan bolam lampu dari mimpi besar dia untuk menerangi dunia.

Jadi totally kita semua harus tetap memupuk mimpi-mimpi besar kita untuk membuat perubahan yang membantu terwujudnya dunia yang lebih maju dan bermanfaat bagi orang banyak.

Jadi dua cara untuk untuk menjalani kehidupan ini dan keduanya benar.

1. Dengan penuh keajaiban karena kita menyerahkan totally kepada Kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa, dan

2. Dengan biasa-biasa saja, karena yaaa… memang beginilah kehidupan ini.

Dan semua orang jika ditanya, mereka justru akan memilih nomor 1, karena secara fitrah (suci) kita semua adalah ciptaan-ciptaan Tuhan Yang Maha Esa untuk selalu dekat denngan-Nya.

Jadi, mari kita jalani kehidupan ini dengan penuh ajaib, dengan selalu bersyukur setiap apa yang kita dapatkan.