Ali Wardana Panggabean Center
Kesetiakawanan Sosial/Kesamaan
Berita Populer
Kamis, 27 Februari 2014
Korupsi Mikro
Kalau anda mau jujur melihat lingkungan sekitar anda, akan sangat banyak ditemui benih-benih korupsi yang sangat menjamur di masyarakat dan sebenarnya masyarakat juga banyak yang “mendukung” korupsi tetap subur.
Politik uang masih begitu kuat berakar di masyarakat, bukan hanya pada Pilpres saja, tapi juga Pileg, Pilgub, Pilbup bahkan pemilihan camat pun Politik Uang masih menjadi budaya yang hakikatnya sebuah benih Korupsi tingkat mikro.
Masyarakat sering bersuara keras mengecam pelaku pejabat yang korup dengan kata kata kasar, cemooh, hujatan dll tapi entah masyarakat sendiri secara sadar atau tidak telah melakukan budaya korupsi yang sangat lekat, dengan diberi uang beberapa puluh atau ratus ribu sebagai imbalan, untuk mencoblos calon tertentu masih sangat terlihat jelas dimasyarakat dan bahkan telah menjadi rahasia umum.
Bahkan polisi sering dihujat habis habisan oleh kalangan aktivis dan masyarakat jika salah satu jendralnya memiliki rekening ‘gendut’, namun masyarakat sendiri yang selalu ‘mendukung’ polisi untuk tetap melakukan korupsi misalkan saat operasi lalu lintas dan ada pengendara yang ditilang karena tidak membawa SIM, biasanya pengendara yang kena tilang akan memilih memberi “uang damai” dari pada diurus kepengadilan, dengan alasan menghindari proses yang ribet dipengadilan, toh “Uang Damai” yang diberikan kepolisi belum tentu dimasukkan kedalam kas Negara karena tidak ada catatannya dan sangat mungkin mengalir ke kantong pribadi polisi.
Tak hanya dikalangan masyarakat, golongan pelajar pun banyak yang melakukan praktik “pendidikan korupsi” di Sekolah atau kampus, dengan tujuan agar mendapat nilai bagus, masih ada saja siswa sekolah ataupun mahasiswa perguruan tinggi yang melakukan praktik MENCONTEK.
Jangan sepelekan hal-hal kecil semacam itu yang hakikatnya adalah benih-benih korupsi. Mungkin masyarakat atau pengendara yang melakukan “korupsi mikro” itu berdalih, jumlah uang Suap mereka tak seberapa dan tak merugikan Negara, ya…karena mereka tak punya Kekuasaan, coba kalau mereka diberi kekuasaan mungkin lain lagi ceritanya, yang kecil aja mau, apa lagi dikasih yang besar :P… suatu hal Besar pasti diawali dengan hal kecil. belum lagi dengan murid sekolah dan mahasiswa yang sejak dini telah melakukan praktik “korupsi mikro”, padahal mereka yang akan memimpin negeri ini dan menempati posisi pemimpin. Dan pada dasarnya Filosofi “korupsi mikro” ini sama dengan korupsi kerah putih yaitu menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan.
Kita tak perlu berambisi jadi ketua KPK atau Jendral Polisi untuk memberantas korupsi xD berantaslah korupsi dari diri sendiri, keluarga, teman, lingkungan. Jika lingkungan dan masyarakat telah bersih dari korupsi, maka pemerintahan pun akan bersih dari korupsi, sejatinya kan pejabat pemerintah juga berasal dari masyarakat (sumber air yang bersih akan menghasilkan air yang bersih pula).
Bagaimanapun jika masyarakat tetap bersikap ikut menyuburkan dan memelihara budaya korupsi, jangan pernah salahkan 100% tindakan korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat Negara karena sejatinya pejabat juga dilahirkan dari masyarakat dan koruptor tak akan pernah bisa hidup di habitat yang bersih dari korupsi.
[isi ini jangan di Generalisasi, walau bagaimanapun masih ada (entah banyak atau sedikit) masyarakat, polisi, pengendara motor, siswa sekolah dan mahasiswa yang punya sifat jujur]
https://www.facebook.com/caleg.depok
Rabu, 11 Juli 2012
PENGEMBANGAN KAMPUNG SIAGA BENCANA (KSB) MEMBENTUK MASYARAKAT (COMMUNITY) YANG BERKEMAMPUAN
Selasa, 04 Januari 2011
Selasa, 29 Desember 2009
pelatihan SAR dan Kepemimpinan
RELAWAN PMI CABANG SIBOLGA ADAKAN KEGIATAN PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA, SAR DAN KEPEMIMPINAN
Peningkatan kemampuan relawan perlu ditingkatkan, mengatisipasi hal ini PMI Cabang Sibolga mengadakan pelatihan Pertolongan Pertama dan pelatihan SAR dan Kepemimpinan yang diikuti oleh 30 Relawan dari PMI Cabang Sibolga dan Anggota Gempar Sibolga. Pelatihan pertolongan pertama berlangsung dari tanggal 15 s/d 18 Desember 2009 bertempat di RSU. FL. Tobing Sibolga. Pelatihan yang kedua berlangsung dari Tanggal 25 s/d 27 Desember 2009 dan berlokasi di Pantai Indah Kalangan. Pelatihana ini merupakan hasil kerjasama antara PMI Cabang Sibolga dengan RSU FL.Tobing Sibolga dan GEMPAR Sibolga – Tapteng. Instruktur yang melatih terdiri dari dr. Yasin Wangi yang juga merupakan Kepala IGD RSU.FL.Tobing, kemudian Dr.Aswandi Hutabarat dan Mustaman Siregar, sedangkan untuk pelatihan SAR dan Kepemimpinan dilatih Oleh Instruktur SAR dari Medan dan juga Sibolga.Menurut Sekretaris PMI Cabang Sibolga DRS.Charli Sinambela pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan relawan PMI Sibolga dalam hal tanggap terhadap keadaan sekitar.
Sibolga, 26 Desember 2009
Kedepan diharapkan peran serta pihak – pihak terkait dapat lebih ditingkatkan sehingga anggapan masyarakat selama ini bahwa kegiatan PMI itu hanya mengurusi masalah donor darah dapat diluruskan karena PMI itu memiliki bidang kerja yang sangat luas bukan hanya masalah donor darah tapi PMI juga dapat terlibat langsung dalam hal penanggulangan bencana, pembentukan Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah juga sosialisasi tentang peningkatan kesehatan masyarakat.
Jumat, 06 November 2009
do you know?
Einstein mengatakan bahwa: “Ada dua cara menjalani hidup, yaitu menjalaninya dengan keajaiban-keajaiban atau menjalaninya dengan biasa-biasa saja“.
Sekarang ini banyak selogan yang dikeluarkan oleh banyak orang yang topiknya seolah membius kita: “Stop Dreaming Start Action“. Saya mengatakan bahwa slogan itu sepenuhnya tidak benar.
Mengapa? Coba kita bayangkan, segala sesuatu yang Anda jalani saat ini adalah tidak lepas dari ‘dream’ atau mimpi Anda entah beberapa tahun yang lalu kan?
Sejarah pesawat terbang yang menjadi angkutan favorit saat ini berawal dari sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Thomas Alfa Edison juga menemukan bolam lampu dari mimpi besar dia untuk menerangi dunia.
Jadi totally kita semua harus tetap memupuk mimpi-mimpi besar kita untuk membuat perubahan yang membantu terwujudnya dunia yang lebih maju dan bermanfaat bagi orang banyak.
Jadi dua cara untuk untuk menjalani kehidupan ini dan keduanya benar.
1. Dengan penuh keajaiban karena kita menyerahkan totally kepada Kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa, dan
2. Dengan biasa-biasa saja, karena yaaa… memang beginilah kehidupan ini.
Dan semua orang jika ditanya, mereka justru akan memilih nomor 1, karena secara fitrah (suci) kita semua adalah ciptaan-ciptaan Tuhan Yang Maha Esa untuk selalu dekat denngan-Nya.
Jadi, mari kita jalani kehidupan ini dengan penuh ajaib, dengan selalu bersyukur setiap apa yang kita dapatkan.

